Untuk kesekian kalinya saya percaya
Bahwa mereka yang datang,
pasti akan pulang
Bahwa mereka yang tinggal,
pasti akan hilang
Bahwa mereka yang bersama,
pasti akan pisah
Untuk kesekian kalinya saya percaya
Dinding tak terlihat itu harus senantiasa ada
Bukan apa, tapi mengapa
Karena saya yakin, tanpanya,
saya hanya akan semakin terluka
Dan, untuk kesekian kalinya, lagi, saya percaya
Saya adalah makhluk individu,
yang mau tak mau,
harus sanggup lepas, sendiri.
Bahwa mereka yang datang,
pasti akan pulang
Bahwa mereka yang tinggal,
pasti akan hilang
Bahwa mereka yang bersama,
pasti akan pisah
Untuk kesekian kalinya saya percaya
Dinding tak terlihat itu harus senantiasa ada
Bukan apa, tapi mengapa
Karena saya yakin, tanpanya,
saya hanya akan semakin terluka
Dan, untuk kesekian kalinya, lagi, saya percaya
Saya adalah makhluk individu,
yang mau tak mau,
harus sanggup lepas, sendiri.
Katamu, “jangan jatuh lagi yaa”
Kamu tau, jauh sebelum kamu bilang seperti itu,
aku sudah jatuh berulang kali
Aku jatuh pada rasa akan kamu
Setiap kamu, dengan sengaja, menempelkan punggung helm mu
padaku setiap kali kita bersama
Aku tau itu bodoh dan kekanakan
Tapi mengetahui bahwa yang melakukannya adalah kamu,
dan kepadaku,
semuanya terasa normal
"because time cures everything no matter how long it takes"
I got that 'thing' again. Its so weird but I like it.
Thanks for coming, though I dont know how long it will be.
Saya benci dengan segala hal yang sifatnya menilai. terutama jika harus dalam angka.
Saya lebih nyaman menilai dengan kata. subyektif memang.
Tapi bukankah lewat kata bisa menyampaikan apa yang salah dari mereka dan apa yang harus dibenarkan ?
Bukankah dengan kata bisa terjalin hubungan dua arah ? berinteraksi. bertukar informasi.
Saya paling suka rapot jaman TK dimana semua bentuk penilaian berupa uraian dan pesan dari ibu bapak guru untuk orang tua kita.
Maka jangan salahkan saya jika anda harus mendapat nilai angka yang (mungkin) cukup baik dari saya. meski (mungkin) seharusnya tidak. karena saya memang tidak ambil pusing dengan penilaian macam itu.
Sekian.
Saya lebih nyaman menilai dengan kata. subyektif memang.
Tapi bukankah lewat kata bisa menyampaikan apa yang salah dari mereka dan apa yang harus dibenarkan ?
Bukankah dengan kata bisa terjalin hubungan dua arah ? berinteraksi. bertukar informasi.
Saya paling suka rapot jaman TK dimana semua bentuk penilaian berupa uraian dan pesan dari ibu bapak guru untuk orang tua kita.
Maka jangan salahkan saya jika anda harus mendapat nilai angka yang (mungkin) cukup baik dari saya. meski (mungkin) seharusnya tidak. karena saya memang tidak ambil pusing dengan penilaian macam itu.
Sekian.
Love is exist but with an absence of eternity,
After first moment of the lovers encounter, there is an affirmation of love,
Psychologically lunacy, emptiness, panic, delusion that the moment would lasts forever,
I'm seized by the desire,
I hide behind my back and postpone all my answers.
- f(x) Pink Tape 'Art Film' -
" There’s always a rainbow after the hurricane. " - a friend
I said, not
always. sometimes, too much damage building instead. then depends on your acts,
how you overcome that situation. #justmyopinion
Hey you ! I just met a miraculous boy that resemble you, in many ways. You both are an artist, "one of a kind", cigarettes user, my heartbeats. Yeah I'm in love with him. But dont worry, I still love you more kkkk
His name is Kwon Jiyong, that korean idol one haha.
One of his quotes that "i am" :
I think, the best part is when i can do anything that make myself satisfied
ps. you're not mine and i'm not yours. just lemme loves you like Jiyong do. *HAA ! Why so serious ?
Tuhan Maha Mendengar. Bahkan kau hanya perlu berprasangka saja Beliau tau. Tuhan Maha Mengabulkan. Maka jangan sekali-kali kau berprasangka buruk.
Ya. Aku mengalami ini. Aku sempat berprasangka buruk. Terhadap diriku sendiri. Aku sempat merasa butuh "jatuh". Aku sempat merasa, sekali saja, merasakan jatuh yang benar-benar jatuh, yang pada akhirnya aku harus menyuruh diriku sendiri bangun. Dan sekarang lah Tuhan mengabulkan prasangkaku.
Nilai C. Tidak pernah sekalipun aku menginginkan akan ada abjad itu dalam sejarah akademikku. Tidak pernah. Sekalipun. Bahkan membayangkannya saja tidak. Shock ? JELAS IYA. SANGAT. PASTI. Tapi aku juga harus sadar. Aku sendiri, yang dengan bodohnya, meminta Tuhan untuk membuatku jatuh.
Untuk kau yang dulu mengenal putih,
Yang mengenal suka karna nilai terbaik saat
ujian,
hadiah ulang tahun dari teman,
sanjungan kerabat yang menganggapmu tak
terkalahkan
Untuk kau yang dulu juga mengenal hitam,
Yang mengenal duka karna turun peringkat,
sebal menunggu karna takut telat,
dan was was jika awan mulai pekat
Kau tau, dulu yang kau kenal dua warna itu
Ya, hanya dua, hingga akhirnya dia ada
Dia ada mengenalkanmu merah,
Membuatmu cerah dan bergairah
Membuat pipimu merona meski hanya bertemu mata
Dia ada mengenalkanmu jingga,
Menumbuhkan bangga hingga berbunga
Menumbuhkan asa akan rasa yang tak biasa
Dia ada mengenalkanmu kuning,
Menghadirkan pening tanpa perlu di
sekeliling
Menghadirkan hening jika dia berkeliling
Dia ada mengenalkanmu hijau,
Mengajarmu akan galau
Idealismu pun kacau
Dia ada mengenalkanmu biru,
Memberi haru meski kadang dengan cara
keliru
Memberi rindu yang dulu kau tak tau
Dia ada mengenalkanmu nila,
Tanpa marah meski kau tau dia salah
Tanpa curiga meski lama tak bersua
Dia ada mengenalkanmu ungu,
Tak pernah memunculkan sungu
Walau pada akhirnya kau merasa dungu
Kau tau, dia telah mengenalkanmu banyak
warna
Meski dalam suka dan duka
Kau tau, jika dia tak ada, mungkin hingga
kini
kau hanya mengenal dua warna
Mungkin selamanya kau hanya tau warna zebra
“Kita, PSDM dan BW, nggak akan ninggalin kalian sampai
akhir”
-mbak tere-
Sejak pertama kali dia angkat
bicara, aku merasakan dan menerima pesona orang ini. Dia satu-satunya senior
yang langsung kuhafal dalam sehari.
Aku suka betapa dia mirip dengan
salah satu seniorku, bukan wajah, tapi pesona atau mungkin lebih baik kusebut wibawa. Aku suka bagaimana dia
berbicara. Aku suka bagaimana dia menanyai kami. Aku suka bagaimana dia memberi solusi. Aku suka bagaimana dia menyibakkan kerudungku bak seorang kakak,
sungguh.
*setelah kubaca ulang, kok rada gilani yak. hih. yasudalah yang penting ngepost
*setelah kubaca ulang, kok rada gilani yak. hih. yasudalah yang penting ngepost
Apakah impian hanya untuk mereka
yang bertalenta ?
Kalau begitu, apakah yang tidak
memiliki talenta tidak pantas memiliki impian ?
Kalau kau memiliki impian, hal
pertama yang harus kau lakukan adalah menutup matamu.
Kalau kau menutup mata, bagaimana
orang lain memandangmu, itu tidak penting.
Hanya dengan menutup mata, kau
akan menemukan siapa dirimu sebenarnya,
bukan siapa yang dilihat orang lain
Sosok yang kau temui ketika kau
menutup matamu, itulah dirimu.
Jangan pernah menyerah pada
impianmu.
Karena impian bukan
hanya untuk mereka yang bertalenta, tapi untuk semua yang berani bermimpi.

